19 Februari 2018

Pengamanan Laut Natuna Diperkuat, Satrol Lantamal IV Miliki 4 KRI

19 Februari 2018


KRI Lepu 861 kapal patroli jenis PC-40 (photo : defence.pk)

PANGKAL PINANG - Pangakalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang saat ini memiliki empat Kapal Negara Indonesia (KRI) untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan laut. Keempat KRI adalah KRI Krait-827, KRI Silea-858, KRI Lepu-861, dan KRI Sigurot-864. KRI akan dimaksimalkan dalam menekan segala aksi kejahatan laut dan aksi penyelundupan di wilayah kerja Lantamal IV. 

"Satuan Kapal Patroli (Satrol) Lantamal IV saat ini memiliki empat KRI. Empat KRI ini baru dilimpahkan ke Lantamal IV. Nanti pola operasi KRI akan saya dispersikan ke pangkalan-pangkalan jajaran Lantamal IV," kata Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R Eko Suyatno di Tanjungpinang, Jumat (16/2/2018). 

Lanjut, kata Eko, pengoperasian KRI akan dilaksanakan dengan pola penyebaran ke pangkalan lingkungan Lantamal IV, khususnya Lanal Ranai, Kabupaten Natuna. Menurut dia, Lanal Ranai mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan dukungan logistik serta administrasi bagi unsur-unsur TNI AL yang melaksanakan patroli di perairan yang menjadi tanggung jawabnya serta melaksanakan tugas-tugas lain berdasarkan kebijakan Pangarmabar dan Kepala Staf TNI AL. 

"Karena di sana (Laut Natuna) cukup rawan, di samping itu lautnya cukup menantang terutama pada saat musim utara," jelas dia. 

Selanjutnya Eko menyampaikan wilayah operasi Lanal Ranai memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi, karena terdapat jalur pelayaran internasional yaitu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia dan Vietnam. 

"Untuk itu, Lanal Ranai diharapkan mampu melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya," kata dia. 

Menurut dia, penguatan Lanal Ranai harus dimaksimalkan penginderaan dan fungsi pangkalan dan pos labu. Di Natuna telah dibangun Pusat Komando TNI AL (Puskodal) yang dapat memantau situasi ke depan atau situasi Laut Natuna Utara. Dia menyampaikan, TNI sudah membangun pangkalan di sana mulai dari TNI AD dan Marinir. 

"Fungsi pangkalan dimaksimalkan. Kita mengikuti kebijakan pimpinan TNI dan pimpinan TNI AL," ucap dia. 

Dia menjelaskan, sejak tanggal 22 Januari 2018 TNI AL telah melakukan likuidasi Satrol Koarmabar dan Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Lantamal dan membentuk Satrol Lantamal IV. Lantamal yang sebelumnya hanya memiliki Kapal Angkatan Laut (KAL) dan Patroli Keamanan Laut (Patkamla), dengan adanya Satrol akan diperkuat kapal-kapal patroli yang canggih. 

Kehadiran Satrol Lantamal IV mampu memproyeksikan unsur-unsur kekuatannya dalam rangka mengamankan wilayah perairan sekaligus merespon berbagai kerawanan yang terjadi. "Sekarang Lantamal telah diperkuat kapal-kapal patroli dengan kemampuan manuver unggul, sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi serta untuk menjaga kesiapan operasi unsur-unsur dalam penanganan reaksi cepat di wilayah yuridiksi nasional Indonesia," tutup dia. 

Eko menambahkan, Lantamal IV juga terus berupaya menekan adanya penyelundupan barang-barang ilegal ke Indonesia, khususnya Kepri. Tidak hanya itu, Lantamal IV terus memerangi peredaran narkoba terutama penyelundupan narkoba dari luar negeri. Lantamal akan terus bersinergi dengan instansi lain.

"Peran kita sekarang meningkatkan penginderaan dan intelegensi. Pola yang dilaksanakan sekarang dengan efektif dan efesien. Kalau ada informasi pasti baru kita operasi dengan diterjunkan tim khusus," ucap Eko.

(SindoNews)

PAF Now Looking for New Suppliers of Helicopters

19 Februari 2018


PAF is looking for other suppliers of combat utility helicopter (photo : FlightGlobal)

MANILA -- With the cancellation of the Bell 412 EPI contract from Bell Helicopter and Canadian Commercial Corporation (CCC), the Philippine Air Force (PAF) is now looking again for possible suppliers capable of supplying it with aircraft with similar capabilities.

The possible suppliers and their respective countries would be determined by the research of the technical working group, PAF head Lt. Gen. Galileo Gerard Kintanar said Saturday.

This would follow the same procurement process instituted for the Bell 412 EPI contract, he added.

"As of now we do not want to speculate. the (technical) working group will look into (for) any solution from the east and western countries," Kintanar said.

The Department of National Defense (DND) earlier issued a notice to CCC terminating the contract for the supply and delivery of 16 units of Bell 412 combat utility helicopters for the PAF.

In a statement, DND public affairs office chief Arsenio Andolong said this is in compliance with President Rodrigo Duterte's directive and pursuant to the Government Procurement Law (RA 9184) which authorized contract termination for the convenience of the government.

The move comes after the Canadian government ordered the review of the PHP12-billion deal between the DND and CCC after receiving reports that the Philippines is planning to use the helicopters against rebel forces.

"While the combat utility helicopters being purchased are primarily for thepurpose of transporting personnel and supplies, the Department believes that it does not owe the Canadian government any justification for an outright purchase of equipment from a privately-owned company," Andolong said.

He also stressed that the DND will continue to pursue the modernization program, and will look into procuring the combat utility helicopters from other countries in lieu of the Bell 412. 

(PNA)

TNI AU Siapkan Bom Pintar untuk Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS

19 Februari 2018


Smart bomb produk dalam negeri (photo : Defense Studies)

Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS, TNI AU Siapkan Bom Pintar, Begini Bentuk dan Spesifikasinya

BANGKAPOS.COM--Sebanyak 24 unit jet tempur F-16 C/D 52ID dari Amerika Serikat akhirnya sudah tiba semua di awal tahun 2018 ini.

Datangnya F-16 C/D yang bisa untuk membentuk 2 skadron itu langsung membuat sibuk Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau).

Bagaimanapun juga, Dislitbangau harus memproduksi banyak bom untuk mempersenjatainya.

Sejumlah bom hasil penelitian dan pengembangan Dislitbangau seperti BTN-100 dan BT-500 memang telah sukses diuji coba dan mendapat sertifikasi serta siap digunakan oleh F-16 C/D.

Pada Juni 2014, sejumlah persenjataan berupa Bom Tajam (BTN)-100, BT-200 dan BT-500, sukses diuji coba di kawasan Lanud Iswahyudi, Madiun, dan Air Shooting Range (ASR) di Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur.

Uji bom berlangsung dua tahap yaitu pengujian statis dan pelepasan bom.

Uji coba secara statis baru bisa dikatakan berhasil jika bom yang dipasang di sayap pesawat stabil dan bisa dijatuhkan dengan landasan yang diberi bantalan berupa kasur berlangsung stabil dan aman.

Sedangkan uji coba pelepasan bom menggunakan pesawat Sukhoi Su-27/30 dan F-16 itu dapat berjalan secara sempurna karena bisa menyasar ke parameter yang telah ditentukan.

Alat-alat penguji ledakan bom yang digunakan untuk menganalisis berbagai kemampuan bom juga berfungsi secara maksimal.

Salah satu yang menjadi parameter pengujian adalah kecepatan bom, akurasi bom terhadap sasaran, daya dan jangkauan ledakan, bentuk serpihan bom, dan sebagainya.

Untuk memasuki proses produksi bom secara massal, perusahaan terkait ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan jumlah bom yang harus diproduksi juga harus sesuai permintaan Kemhan.

Setelah sukses mengembangkan bom BT-500 hingga memasuki tahap produksi secara massal, saat ini Dislitbangau juga masih berusaha keras menciptakan bom pintar (smart bomb).

Jenis bom berdaya ledak besar yang dalam proses kerjanya setelah dijatuhkan dari pesawat bisa menghantam sasaran secara akurat berkat alat pemandu.

Sesuai dengan proses penelitian dan pengembangan smart bomb, Dislitbangau sebenarnya sudah harus memasuki tahap uji coba baik secara statis maupun pelepasan (release).

Dalam berbagai pameran persenjataan dalam negeri, smart bomb Dislitbangau bahkan sudah sering dipamerkan dan menjadi perhatian khusus para pengunjung dari kalangan militer.

Dislitbangau memang masih menghadapi kendala untuk menguji smart bombkarena belum memiliki perangkat untuk mengujinya.

Jika sudah ada Dislitbangau siap melakukan uji coba hingga smart bomb segera siap operasional.

(TribunNews)

HMAS Hobart Continues Sea Trials

19 Februari 2018


Electronics technicians prepare HMAS Hobart's Phalanx close-in weapons system (CIWS) ahead of the ship's first ever live CIWS firing. (photo : RAN)

No shortage of milestones for DDG-39

HMAS Hobart has achieved a number of firsts for her class and the Royal Australian Navy over the past several weeks off the east coast of Australia.

Hobart successfully tested her 20mm Close-In Weapons System (CIWS) against an inflatable surface target, marking the first ever time an Australian warship has fired a CIWS capable of striking air and surface targets.

The ship’s five-inch main gun was tested against a towed target from varying distances and directions in an early morning naval gunfire exercise.

Two practice delivery torpedoes were also fired from the port and starboard tubes with both torpedoes recovered for analysis by Navy’s Surface Forces branch.

Test Director Lieutenant Commander David Small of Surface Forces oversaw the program of firing serials and said they would help prove the true capabilities of Australia’s newest warships.

“First-of-class trials set a baseline for the performance of a new class of ship”, he said.


HMAS Hobart fires a round from her Mk 45 Mod 6 5-inch gun during test firing off the east coast of Australia. (photo : RAN)

“The next key aim is to validate our standard operating procedures as two more guided missile destroyers come online.”

“Surface Forces will now prepare a trial report of observations and recommendations, including changes to procedure or potential physical changes to the ship itself.”

Hobart completed a number of other evolutions for the first time during her trial period, including a replenishment at sea with HMAS Anzac and a deep water anchor in the waters off Jervis Bay.

Commanding Officer Captain John Stavridis said the ship had shown its capability in a number of war-like scenarios.

“HMAS Hobart is an outstanding warship that is up to the rigours that come with a busy tempo”, he said.

“Many of the things we have achieved for the first time these past several weeks will be daily requirements of this ship over decades to come and we’ve shown we are a guided missile destroyers with a ruthlessly professional crew that gets the job done.”

Hobart will conduct further trials throughout the year culminating with an evaluation period in the United States.

(RAN)

17 Februari 2018

Dua Sukhoi Su-35 Diharapkan Tiba 2019

17 Februari 2018

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 (photo : Maxim Khusainov)

Setelah melewati berbagai proses dan penantian yang lama, akhirnya Kementerian Pertahanan menandatangani kontrak pembelian 11 pesawat tempur Su-35. Penambahan pesawat tempur ini diharapkan bisa meningkatkan kemampuan militer Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.

”Ya, betul, kontrak pembelian Sukhoi sudah ditandatangani,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Totok Sugiharto, Jumat (16/2).

Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, penandatanganan kontrak pembelian Sukhoi ini dilakukan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Agus Setiadji dengan Perwakilan dari Rosoboronexport, Yuri. Penandatanganan dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari, pukul 11.23.

Nilai kontrak 11 pesawat tempur itu adalah 1,14 miliar dollar AS. Sebagaimana disepakati sebelumnya, nilai ini juga disertai dengan skema imbal beli, offset, dan transfer teknologi. Di Indonesia akan diadakan tempat pemeliharaan sehingga pesawat itu tidak perlu lagi dibawa ke Rusia untuk pemeliharaan.

Diharapkan, hal ini juga bisa mendorong negara-negara di ASEAN yang memiliki Sukhoi untuk melaksanakan pemeliharaan pesawatnya di Indonesia. Walaupun sempat disebutkan imbal dagang di antaranya dengan menggunakan produk karet, rincian tentang transfer teknologi ataupun imbal dagang dan offset ini juga belum terperinci disampaikan ke publik.

Totok Sugiharto mengatakan, rencana pengiriman pesawat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Apabila semua lancar, termasuk berlakunya efektif kontrak pada Agustus 2018, dua pesawat Sukhoi Su-35 akan dikirimkan ke Indonesia pada Agustus 2019. Enam unit berikutnya akan dikirimkan pada Februari 2020, sedangkan tiga unit lainnya pada Juli 2020.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya mengatakan, TNI AU mendukung penandatanganan kontrak pesawat pengganti F-5. Menurut dia, sudah hampir dua tahun para penerbang di Skuadron Udara 14 tidak terbang, sejak pesawat F-5 dinyatakan tak bisa dipakai lagi. ”Kami harapkan pengganti F-5 segera tiba di Tanah Air,” kata Jemi.

(Kompas)

Pangkalan Baharu Maritim Malaysia di Pahang

17 Februari 2018


Kapal patroli APMM dari Jepang (photo : APMM)

KUANTAN: Sebuah pangkalan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia) Wilayah Timur akan dibina di Pahang, bagi memastikan kawalan keselamatan di perairan negara berada pada tahap optimum.

Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Shahidan Kassim, berkata pangkalan berkenaan bakal meliputi penempatan warga Maritim Malaysia.

Katanya, peruntukan untuk tujuan itu sudah diluluskan pada Julai tahun lalu tetapi enggan mendedahkan nilainya.

"Pangkalan berkenaan akan meliputi pentadbiran di Pantai Timur termasuk sebahagian Johor dan kita mencari lokasi sesuai untuk tujuan itu.

"Kontraktor sudah dilantik dan apabila lokasi dikenal pasti, kerja pembersihan kawasan dilakukan sebelum pembinaan dimulakan," katanya.

Beliau berkata demikian kepada pemberita selepas merasmikan Sambutan Hari Ulang Tahun Maritim Malaysia ke-13 dan Perbarisan Tamat Latihan di Akademi Maritim Sultan Ahmad Shah (AMSAS), di sini, hari ini.

Hadir sama, Ketua Pengarah Maritim Malaysia, Laksamana Maritim Datuk Seri Zulkifli Abu Bakar.

Seramai 383 pelatih menamatkan latihan asas Leftenan Muda Maritim dan Bintara Muda.

Maritim Malaysia mencatat sejarah apabila Leftenan Maritim Aida Arzahri, 35, menjadi wanita pertama dilantik sebagai pegawai memerintah kapal kerajaan di Malaysia dan akan meneraju KM Nyalau yang berpangkalan di Lumut, Perak.

Shahidan berkata, selari pembangunan Rancangan Malaysia ke-11 (RMKe-11), pihaknya meneruskan perolehan dan penggantian aset bagi memperkasakan keupayaan penguatkuasaan dan carilamat.

Katanya, Maritim Malaysia kini memiliki empat kapal jenis New Generation Patrol Craft (NGPC) manakala baki dua unit lagi akan diterima Jun depan.

"Kita juga merancang memperoleh kapal induk bagi melaksanakan pelbagai tugas dan misi dalam tempoh 21 hari di laut, sekali gus dapat meningkatkan prestasi penguatkuasaan dan carilamat.

"Antara perolehan lain adalah sistem C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance), bot laju, helikopter dan pesawat pemantauan maritim," katanya.

Dalam perkembangan lain, Shahidan berkata, Maritim Malaysia berjaya mengurangkan kadar jenayah kepada kurang tiga peratus tahun lalu berbanding 48.08 peratus pada 2006.

"Kita turut memungut kira-kira RM307 juta hasil denda terhadap nelayan asing, pelupusan kapal, kompaun dan lelongan ikan dari 2006 hingga 2017," katanya.

(Berita Harian)

Radar Hughes Marinir Untuk Modernisasi Batalyon Infantri dan Artileri

17 Februari 2018


Pengujian radar Kelvin Hughes oleh Korps Marinir (photos : Korps Marinir)

Marinir Uji Coba Radar Hughes

Dispen Kormar (Hambalang). Korps Marinir TNI Angkatan Laut melakukan uji coba dan kepelatihan Radar tipe pengamatan permukaan/Darat, Radar Hughes atau yang dikenal Ground Surveyland Radar System (GSRS) di Bukit Hambalang, Sentul Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/02/18).



Uji fungsi ini dilakukan guna mengetahui kemampuan mendeteksi, mengetahui dan mengidentifikasi musuh yang bergerak berupa kendaraan maupun personel secara terus menerus dari arah 360 derajat dan dapat dibuat Zona Clearing Alarm yang dapat mendeteksi musuh yang masuk wilayah tertentu. yang rencananya akan memperkuat Alkapsus Korps Marinir menjadi lebih modern, khususnya Batalyon Infanteri Marinir dan Artileri Korps Marinir.



Radar Hughes menyediakan solusi surveilans mobile berbasis radar yang lengkap untuk integrasi dengan kendaraan, Sistem dapat dikerahkan sebagai radar mobile SharpEye SxV tunggal yang terintegrasi dengan sistem tiang - tiang teleskopik kendaraan atau trailer mandiri.



Dengan radar SharpEye sebagai sensor pendeteksi utama, badan pengawas dan patroli keamanan dapat memantau dan mencegat ancaman di tempat terpencil dan sulit untuk mengakses lokasi dalam rentang yang panjang. Solusi radar pengawas seluler memungkinkan pergerakan lokasi yang sering dan mudah dengan kemampuan penyebaran dan pengawasan segera dalam beberapa detik setelah meningkatkan radar dan kamera.


Radar Kelvin Hughes GSRS (photo : Kevin Hughes)

Radar Hughes merupakan radar generasi baru buatan Inggris yang dirancang sesuai dengan kemajuan teknologi dan perkembangan kemampuan yang dapat mendeteksi pesawat tanpa awak (Drone), Radar Huges dilengkapi Kontrol Kamera, Video, Pelacakan dan Informasi Sasaran, Tampilan Peta, dan Kompatibilitas Perangkat Keras.


Radar Kelvin Hughes GSRS (photo : Kevin Hughes)


Uji coba dan kepelatihan Radar Hughes ini ditinjau oleh Kolonel Mar Enjang Suryana, Aslog Dankormar Kolonel Mar Budiarso, Kadismat Kormar Kolonel Mar Agung Trisnanto, Danbrigif-2 Mar Kolonel Mar Kresno Pratowo, Danmenart-2 Letkol Mar Wahyudi Saputra.

(Marinir)