17 Agustus 2017

Six ScanEagle UAVs for Philippines Approved

17 Agustus 2017


Insitu ScanEagle UAV (photo : Insitu Inc)

Insitu Inc., Bingen, Washington, is being awarded $7,407,625 for firm-fixed-price order N00019F0235 against a previously issued basic ordering agreement (N00019-17-G-0001) for the procurement of six ScanEagle unmanned aircraft systems, related support equipment, training, site activation, technical services, and data for the government of the Philippines.  

Work will be performed in Bingen, Washington, (70 percent); and Hood River, Oregon (30 percent), and is expected to be completed in July 2019. 


ScanEagle's sensor (photo : dutchdefencepress)

Foreign military sales funds in the amount of $7,407,625 are being obligated at the time of the award, none of which will expire at the end of the current fiscal year.  

The Naval Air Systems Command, Patuxent River, Maryland, is the contracting activity.

(US DoD)

RSAF to Participate in World's Premier Air Warfare Exercise Red Flag - Nellis

17 Agustus 2017


An RSAF F-15SG from the Peace Carvin V Detachment taking off from Mountain Home Air Force Base, Idaho. (photo : Sing Mindef)

The Republic of Singapore Air Force (RSAF) will be participating in the United States Air Force (USAF)-hosted Exercise Red Flag - Nellis at Nellis Air Force Base, Nevada, United States, from 14 to 25 Aug 2017 (US time). The RSAF will be deploying eight F-15SG fighter aircraft and more than 100 personnel from its Peace Carvin V detachment in Mountain Home Air Force Base, Idaho, to participate in this large-scale air combat exercise. The other international participants are from Saudi Arabia and the United States (US), with observers from Chile, Oman and Romania. 

Exercise Red Flag - Nellis is a high intensity air-to-air combat exercise involving up to 100 aircraft including the Saudi Arabia's EF-2000 Eurofighter Typhoons and the USAF's F-22, F-16C/D, F/A-18C/D fighter aircraft and E-3A airborne early warning aircraft. The participating countries will engage in a series of realistic and challenging air-to-air and air-to-ground training missions. The training conducted during the exercise will allow the participants to hone their combat readiness and sharpen their operational capabilities.

The RSAF has been participating in Exercise Red Flag - Nellis since 1982. The exercise underscores the excellent and long-standing defence relationship between the United States and Singapore. It also enhances professionalism and interoperability among the participating forces, and provides the RSAF an opportunity to benchmark itself against other leading air forces.

(Sing Mindef)

Pembuatan dan Pengembangan Pesawat N219 Rp827 Miliar

17 Agustus 2017


Pesawat N-219 (photo : LAPAN)

Antarajabar.com - Biaya pembuatan dan pengembangan Purwarupa Pertama Pesawat N219 yang digagas oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencapai Rp827 miliar.
         
"Telah kami keluarkan semuanya pada saat ini sekitar Rp827 miliar, itu terdiri  dari anggaran LAPAN dan PT DI," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso pada jumpa pers 'first flight' Purwarupa Pertama Pesawat N219 di Bandung, Rabu.
         
Menurut dia sejak perencanaan hingga proses uji terbang perdana, Pesawat N219 telah menghabiskan biaya sekitar 62 juta dolar AS atau setara Rp827 miliar.
         
Budi mengatakan proses ini masih memerlukan sejumlah tes berikutnya serta penyempurnaan. Total anggaran yang dikeluarkan diperkirakan mencapai Rp1 triliun.

Anggaran pembuatan pesawat ini, kata dia, jauh lebih murah dibandingkan pesawat terdahulunya N219. Biaya persiapan dan pengembangan N250 mencapai 25 kali lipat dari N219 atau mencapai sekitar 1,8 miliar dolar.
         

"Jadi, anggaran sekitar 62 juta dollar ini kecil kalau dibandingkan program N250 yang menghabiskan 25 kali lebih dari program ini," ujarnya.
         
PT DI, menurut dia, memang mendesain pesawat murah yang disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki pemerintah.
         
"Hal ini agar tidak membebani pemerintah yang juga ingin mengembangkan pesawat karya anak bangsa sendiri," kata dia. (Antara)

N219 Butuh 300 Jam Terbang untuk Dapat Type Certificate

Bandung - Pesawat N219 sukses menjalani flight test (tes terbang) perdana selama 20 menit. Butuh waktu 300 jam terbang untuk pesawat N219 sebagai syarat mendapatkan type certificate. 



Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPP) Kementerian Perhubungan.

"Untuk mencapai 300 jam terbang diperkirakan membutuhkan biaya Rp 200 miliar," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Budi Santoso di kantornya, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (16/8/2017).

Budi menjelaskan biaya Rp 200 miliar itu untuk operasional selama penerbangan 300 jam. Sebab, sambung dia, diperkirakan satu kali penerbangan mengeluarkan biaya sebesar Rp 240 juta.

Menurutnya biaya tersebut akan segera dipersiapkan oleh PTDI bersama dengan LAPAN. Sehingga, sambung dia, sertifikasi yang dibutuhkan pesawat N219 bisa didapat pada tahun 2018.


Pesawat N-219 (photo : Detik)

"Selanjutnya tahapan serial production pada tahun 2019. Nantinya pesawat N219 sudah siap dan laik untuk memasuki pasar, dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang kompetitif," ungkap dia.

Proses untuk bisa mendapatkan sertifikasi ini sangat panjang. Mulai dari serangkaian pengujian dari wing static test, landing gear drop test, functional test engine off, medium speed taxi dan pada tanggal 09 Agustus 2017.

Purwarupa pesawat pertama N219 menjalani pengujian high speed taxi dan hopping yaitu pengujian berjalan dengan kecepatan tinggi di landasan dan mengangkat roda depan, kemudian mendarat lagi.

Pengujian hopping merupakan pengujian yang diibaratkan pesawat seperti melompat dengan mengangkat roda depan, kemudian mendarat lagi. Pengujian ini untuk memastikan sistem avionik, sistem hidrolik dan sistem permesinan telah siap dan berfungsi dengan baik untuk mendukung pesawat bisa terbang. (Detik)

First LCS To Be Launch Next Week

17 Agustus 2017


KD Maharaja Lela 2501 first of Littoral Combat Ship (photo : MMP)

SHAH ALAM: RMN’s first of class Littoral Combat Ship (LCS) will be launched next week at Boustead Naval Shipyard in Lumut. The launch of the ship marks the countdown into service of the LCS in 2019.

The Sultan of Perak, Sultan Nazrin Shah is expected to officiate the ceremony on Aug. 24 though in keeping with naval traditions, Raja Permaisuri Perak Tuanku Zara Salim is expected to launch the ship and named her as Maharaja Lela. She will be given the Kapal Diraja prefix when she is commission into service, hopefully in 2019.

RMN chief Admiral Kamarulzaman Badaruddin confirmed the launch ceremony and the name of the ship when met at the Defence Ministry today.

The navy which had surveyed the public to choose three themes – Warrior, Weapons and Valor – as the names for the LCS, had apparently chosen the Warrior, hence Maharaja Lela as the first of class. And keeping with naval tradition the first of class will take up the 2501 pennant number.


KD Maharaja Lela 2501 first of Littoral Combat Ship (photo : Malaysian Defence)

It is likely that RMN had chosen the pennant number in keeping with its stand that it is an LCS, a new class of warship and not a corvette or a frigate. The new ship will not looked like the Egyptian Gowind at its launch as the panaromic mast has been installed on the ship prior to the launch.

Meanwhile, Malaysia has become the second ASEAN country after Thailand to be elected to the State Partnership Program initiated by the U.S Defense Department. Malaysia signed the SPP with the Washington National Guard at a ceremony today (Aug. 16). officiated by Chief of Defence Force Jen Raja Mohamed Affandi Raja Mohamed Noor.

Raja Affandi says through the SPP, the Malaysian Armed Forces with the Washington National Guard will not only carry military cooperation activities – joint training exercises – but also social development activities.

As a first step, MAF and WANG have carried out a series of joint exercises through Exercise Bersama Warrior, from Aug. 6 to 18 in Mentakab, Pahang and Kluang, Johor. This cooperation will be further expanded in the future for the benefits of both parties.

(Malaysian Defence)

Belanja Pertahanan pada Nota Keuangan 2018

17 Agustus 2017


Fregat KRI Martadinata 331 (photo : Damen)

Nota Keuangan RAPBN 2018: Alokasi Modernisasi Alutsista Rendah

Bisnis.com, JAKARTA—Alokasi dana modernisasi alutsista dan non alutsista hanya mendapat porsi kurang dari 10% dari total anggaran Kementerian Pertahanan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2018.

Dalam dokumen Nota Keuangan RAPBN 2018 yang diperoleh Bisnis, Selasa (15/8/2017) malam, total anggaran Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mencapai Rp105,72 triliun. Jika dihitung secara keseluruhan, maka total anggaran terkait modernisasi alutsista hanya menyentuh Rp10,06 triliun.

Dalam rinciannya, disebutkan program modernisasi alutsista, non alutsista serta sarana prasarana integratif mendapat alokasi Rp695,35 miliar. Sementara itu, program modernisasi alutsista dan non alutsista, sarana dan prasarana mitra darat mendapat Rp4,07 triliun.

Adapun program modernisasi alutsista dan non alutsista serta pengembangan fasilitas dan sarana prasarana mitra laut memeroleh alokasi Rp3,32 triliun, sedangkan program modernisasi alutsista dan non alutsista serta pengembangan fasilitas dan sarana prasarana mitra udara sebesar Rp4,96 triliun.

Alokasi dana terbesar diberikan untuk program penyelenggaraan manajemen dan operasional matra darat yang mencapai Rp37,06 triliun. Pos terbesar kedua ditujukan untuk program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Kemenhan dengan besaran Rp17,26 triliun.

Di sisi lain, pemerintah tengah mempersiapkan imbal dagang dengan Rusia. Sejumlah komoditas perkebunan dan kehutanan, seperti kopi, teh, karet, dan minyak kelapa sawit, akan dibarter dengan sebelas unit pesawat Sukhoi Su-35. Nilainya disebut mencapai US$600 juta.

Nota Keuangan RAPBN 2018 rencananya bakal dibacakan oleh Presiden Joko Widodo di hadapan Parlemen pada siang ini, seusai sesi Pidato Kenegaraan tahunan, Rabu (16/8/2017).

(Bisnis)

DND Mulls Acquisition of Medium Tanks

17 Agustus 2017


Medium tank for AFP defines weighing 40 tons or more (photo : IDET)

MANILA -- Instead of heavily-armored and gunned main battle tanks, the Department of National Defense (DND) is looking at the possibility of acquiring some medium tanks for its armored units.

This was emphasized by Defense Secretary Delfin Lorenzana when asked by the PNA Wednesday on whether the ongoing conflict in densely-packed Marawi City, where Maute Group terrorists converted concrete houses and buildings into fortified fighting positions, necessitates the acquisition of a main battle tank fleet.

"Not really. We do not expect a lot Marawi-type conflict in the future. Therefore a couple of medium tanks would do: for contingency in urban warfare and for training," he added.

Lorenzana also defines main battle tanks as vehicles weighing 40 tons or more and carrying a large-caliber gun while medium tanks are those weighing 20 tons or less and equipped with a medium-caliber but powerful cannon but capable of breaching reinforced concrete walls.

As this develops, Mechanized Infantry Division spokesperson Capt. Emman Adriano said they are now using with great effect the newly-acquired armored vehicles in their ongoing operations in Marawi City.

"Our current capability can surely sustain the operations in Marawi City," he added.

Adriano earlier said a large portion of the country's armored assets are now seeing action in the ongoing operations to clear Marawi City of the remaining Maute Group terrorists.

"(Armored assets deployed ) are four mechanized battalions, one cavalry squadron and one light armored troop. All of our newly acquired armored vehicles are now deployed in Marawi City," he said. These units consists of more than 120 armored vehicles of various types. 

(PNA)

16 Agustus 2017

Pesawat N219 Resmi Terbang Perdana

16 Agustus 2017


Terbang perdana pesawat N219 di atas kota Bandung (photos : Kompas)

KOMPAS.com - Hari ini, Rabu (16/8/2017), sekitar pukul 09.10 WIB, pesawat N219 hasil kerja sama LAPAN dan PTDI resmi melakukan uji terbang perdana. Penerbangan perdana N219 dilakukan di bandara Husein Sastranegara, Bandung.

N219 dengan nomor registrasi PK-XDT terbang dengan mulus, dan akan melakukan seragkaian uji coba terbang, seperti kontrol kemudi dan navigasi.

Sumber KompasTekno mengatakan N219 akan terbang selama 30 menit di langit Bandung, sebelum kembali mendarat di bandara Husein Sastranegara.

Sebelumnya, LAPAN dan PTDI telah melakukan serangkaian uji coba di darat sebelum melakukan uji terbang pertama kali. Pengujian termasuk run up mesin, short taxiing, long taxiing, high speed taxiing, dan hopping test.


Pesawat N219 (photo : Rizky Aditya)

Penerbangan perdana N219 sempat tertunda beberapa kali. Namun akhirnya, sehari sebelum peringatan 72 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, LAPAN dan PTDI sukses melakukan terbang perdana.

N219 adalah pesawat komersil turboprop (baling-baling) bermesin ganda dengan kapasitas 20 penumpang yang diklaim oleh Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, dirancang dan dirakit oleh putra-putri bangsa di PTDI. (Kompas)

Sukses Uji Terbang Perdana, Ini Keunggulan Pesawat N219

TEMPO.CO, Jakarta - Pesawat N219 PT Dirgantara dan LAPAN berhasil melakukan terbang perdana di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Sebelumnya pesawat yang oleh mantan presiden Habibie disebut pesawat mainan ini sudah melakukan uji lainnya antara lain uji kelistrikan di landasan, uji kebocoran, uji kebersihan untuk tangki bahan bakar.


Pesawat N219 mulai dikembangkan oleh PT DI sejak 2006, agar dapat diterbangkan dalam berbagai misi. Pesawat sekelas dengan Twin Otter ini dapat memenuhi kebutuhan militer sebagai pesawat angkut pasien, kargo, atau pengintai. Tempo mencatat ada dua keunggulan besar pesawat N219 yang dapat memikat pembeli.

Teknologi Lebih Unggul

Latar belakang pengembangan pesawat N219 menurut Direktur Utama PT DI, Budi Santoso untuk membuka keterisolasian jalur penerbangan. Selain itu sebagai upaya mempersatukan semua wilayah yang ada di Indonesia.

Ia memberi contoh daerah Sulawesi Selatan, yang terdiri atas kepulauan dan pegunungan, masih memiliki banyak kawasan yang belum bisa dijangkau oleh pesawat. "Kalau pemerintah memiliki pesawat ini, maka daerah ini selangkah lebih maju dari provinsi lainnya," ucap Budi kepada Tempo 1 Maret 2012 silam.


Tidak heran pesawat N219 bisa dikatagorikan pesawat perintis karena bisa mendarat di landasan pacu 600 meter saja. Sementara pesaing pesawat sejenis seperti DHC-6 Twin Otter juga bisa mendarat di landasan 600 meter namun kapasitasnya lebih kecil. Sedangkan Casa C-212 minimal dapat mendarat di landasan 800 meter.

Keunggulan lainya, pesawat N219 menerapkan teknologi tahun 2000-an. Berbeda dengan pesaingnya yang masih beroperasi namun teknologi sudah uzur. Pesawat Twin Otter yang beroperasi di Indonesia masih menggunakan teknologi mesin 1960. Sementara N219 menggunakan teknologi yang paling mutakhir. Chief Engineering Pesawat N219 Palmana Banandhi kepada Tempo pernah mejelaskan keunggulan teknologi N219.

"Dari sisi aerodynamic menggunakan teknologi tahun 90-an. Karena kita menggabungkan antara teknologi air foil CN 235 dan N250 sehingga secara teknologi ini lebih unggul," ujar Palmana Oktober 2015 lalu.

Kokpit pesawat N219 (photo : goodnewsfromindonesia)

Laku Di Pasaran

Lion Mentari Airlines pada Agustus 2013 lalu berencana memesan 50 unit N219 yang akan digunakan untuk rute perintis di Indonesia. Tahun yang sama PT Nusantara Buana Air (NBA) juga memesan pesawat N219 sebanyak 20 unit. Selain perusahaan swasta, pemerintah daerah juga ikut memesan pesawat N219. Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana pada Desember 2015 mengungkapkan pemda Aceh dan Papua sudah memesan lebih dari 10 unit.

PT Air Born Indonesia, perusahaan patungan Indonesia dengan Malaysia juga ikut memesan delapan unit pesawat yang dapat mengangkut 19 penumpang ini. “Kami sudah menandatangani LoI (Letter Of Intent), dan harganya sudah kami sepakati, dan itu kompetitif,” kata Direktur Utama PT Air Born Indonesia Rull De Leon Nacachi Desember 2015.

Jumlah pesanan itu bisa terus bila pesawat N219 sudah terbang. Direktur Utama Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengklaim telah menerima 200 letters of intent. Namun Budi belum mau membuatkan kontrak jual beli. "Saya belum mau membuat kontrak sebelum pesawatnya bisa terbang," kata dia di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis, 2 Maret 2017. (Tempo)